|
Written by humas FP
|
|
Thursday, 19 May 2011 14:11 |
|
Setidaknya ada dua alasan, kenapa kita perlu untuk tetap menjalin persaudaraan. Pertama, karena persaudaraan adalah unsur dari persatuan. Sementara persatuan adalah rahim yang darinya lahir kekuatan. Satu lidi yang terserak, akan mudah patah dan tak mampu berbuat banyak. Namun jika lidi - lidi yang terserak itu disatukan, maka ia akan lebih kuat, dan mampu memberi manfaat. Sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa yang terpecah mudah dijajah, sementara bangsa yang bersatu, mampu bangkit dan maju. Kedua, menjalin persaudaraan adalah ibadah, bukan sekedar bertemu dan saling sapa, tapi juga ada pahala dan keridhoanNya. Persaudaraan atau ‘silaturahim’ adalah berbagi kasih sayang, yang darinya terbuka peluang keluasan rizki dan keberkahan usia.
Dengan menjalin persaudaraan kita bisa saling berbagi, saling mengisi dan saling mengoreksi.
|
|
Written by humas FP
|
|
Tuesday, 03 May 2011 14:18 |
|
Pada awal berdirinya di tahun 1974, STM Pembangunan Bandung, hanya memiliki 4 jurusan, yaitu Elektronika Komunikasi, Elektronika Industri, Listrik Industri dan Teknik Pendingin. Dalam perjalanannya, Jurusan Elektronika Komunikasi berganti nama menjadi Teknik Transmisi, sementara Elektronika Industri ditambah menjadi Elektronika Industri dan Komputer.
Demi menjawab kebutuhan Industri, dan menampung banyaknya siswa yang mendaftar, maka STM Pembangunan Bandung menambah lagi beberapa jurusan, yaitu jurusan Instrumentasi Industri dengan program keahlian Kontrol Proses pada tahun 1977. Namun karena luasnya bidang Instrumentasi Industri, maka pada tahun 1997 jurusan ini melahirkan jurusan baru yang masih termasuk rumpun Instrumentasi Industri, yaitu jurusan Kontrol Mekanik.
Seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi, maka pada tahun 2003 lahir 2 jurusan baru, yaitu Rangkaian Perangkat Lunak (RPL) dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Kemudian pada tahun 2004 lahir jurusan Teknik Produksi Program Pertelevisian (TP3). Sehingga totalnya menjadi 9 jurusan. Jika sebelumnya hanya jurusan Elektronika Industri dan Komputer yang memiliki 2 kelas, saat ini hampir semua jurusan memilikinya. Lebih jelasnya berikut daftar jurusan di STM Pembangunan Bandung :
|
|
Friday, 01 January 2010 00:00 |
|
Assalamu'alaikum wr. wb.
 Ilustrasi Ini mau pada kemana sih orang-orang…?! Bis yang lebih jarang dan para penumpang yang lebih banyak dari biasanya, menjadikan pikiran mulai krisis damai. Libur panjang, memang ga aneh, banyak orang berpergian, entah pulang kampung, rekreasi atau silaturahmi. Bis yang di tunggu akhirnya datang, dengan sedikit perjuangan, akhirnya saya bisa masuk juga, walaupun berdiri, ga apa apa, yang penting bisa sampai tujuan sesuai waktu yang ditargetkan.
Padahal harapan awalnya lebih memilih naik bis dari pada motor, supaya bisa baca atau tiduran. Tapi ya…, nasibnya berdiri, itung- itung latihan kekuatan kaki. “Ayoo…Rapat bu…, geser lagi geser lagi…, ayo pa.…, kasian yang lain mau naik..” atur sang kondektur, Seakan penumpang lainpun tak mau ketinggalan, lebih memilih berdiri asal segera sampai tujuan, dari pada menunggu bis kosong belakangan. Walhasil, tambah berdesakanlah penumpang dalam bis.
|
|
"Kebahagiaan adalah bertemunya harapan dan realita pada momen yang tepat."
 Ilustrasi Ya, kira-kira begitulah kata (sok) bijak yang keluar dari pikiran ini, betapa tidak bahagia, sudah menuntun motor beberapa puluh meter, di bawah sengatan matahari, sendirian lagi... mudah-mudahan didepan segera menemukan tukang tambal ban.., dan alhamdulillah, akhirnya dapet juga. Bahagia bener…! Sebaliknya masalah adalah tak selarasnya, antara harapan dan realita, seorang istri mengharap suaminya jujur, tapi ternyata sang suami malah berbohong, masalah!, pebisnis inginnya omzet bertambah, kenyataannya malah stagnan, itu juga masalah. Jadi kebahagiaan itu sebenarnya tak mesti rumit, megah atau luar biasa…, baru akan bahagia kalau sudah memiliki ini dan itu, padahal hampir setiap hari kita bisa merasa bahagia, kalau kita peka, bahwa ternyata ada banyak realita yang sesuai harapan. Pas kebelet, ingin segera kebelakang…, alhamdulillah… wc tersedia, bahagia..!, pas haus, ingin minum, alhamdulillah… air tersedia, bahagia juga, dst. Tak ada yang salah sih, menargetkan ini dan itu, sebagai parameter kebahagiaan, tapi jangan sampai mengabaikan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang senantiasa hadir setiap hari.
|
|
sakit nelen
Gleg…gleg…gleg…,alhamdulillah..,abis minum agak enakan. Kenapa jadi susah nelen gini ya? harus banyakin minum nih kayaknya, hindari gorengan, sama penyedap rasa. Sakit nelen, bisa jadi karena virus, karena bakteri, atau karena makan makanan yang tidak aman, misalkan duri ikan, cuka yang berlebih, apalagi kalau keselek biji kedongdong..:d.
Menu hari ini apa nih ? nasi – ikan asin – ayam – sambel – gorengan tempe – sayur lodeh.., wah…,ada bubur ga ya? lagi sakit nelen nih, atau cukup nasi sama lodeh aja deh, jangan memaksakan diri makan yang lainnya, biar ga sakit, dan cepet sembuh.
Duh, betapa ternyata di setiap kita nelen makanan, ada nikmat yang begitu besar. Baru terasa sekarang, saat sakit, padahal belum lama sakitnya, tapi sudah merasa ga nyaman, sementara sudah ribuan jam tenggorokan ini fit, sudah ribuan kali nelen makanan dengan nikmatnya,
|
|
Assalamu'alaikum wr wb
Hujan yang cukup deras, menggenangi tak hanya bumi yang sudah tua, tapi juga membasahi hati yang demikian kering. Suara guntur tak hanya menggetarkan daun telinga, tapi juga menggedor hati yang hampir tertutup, kilatan cahaya petir tak hanya menyilaukan mata, tapi juga menyemburatkan cahaya untuk hati yang hampir gelap.
Rasa syukur karena atap diatas kepala masih kokoh, sementara di luar sana banyak yang harus geser – geser kursi, pasang ember, panci, dan penalang air lainya karena atap yang bocor. Rasa syukur, karena dinding kita cukup kokoh melindungi dari angin dan cuaca dingin, kasur kita cukup empuk, dan selimut kita cukup tebal, lengkap ditemani menu minuman dan makanan hangat –yang tinggal kita pilih (enaknya makan apa ya? masak mie pake telor, atau beli bakso, seduh susu, dst)- untuk pengusir kedingingan.
|
|
"Tapi aku ga mencintai mu Ci..!" sergahku
"Bohong..! aku tau kamu mencintaiku…, aku merasakan itu..,dari sikap kamu.., walau memang kamu tak pernah mengungkapkannya…!" jawabnya
"Dari sikap yang mana Ci..? aku memang berusaha berbuat baik pada semua orang, pada laki atau perempuan, yang udah berkeluarga maupun yang sendirian…, jadi jangan ge er deh…, lagian maaf ya, kamu tuh bukan type ku, kita beda visi…, sulit sekali aku harus mencintaimu Ci.., maaf..,"
|
|
Ada rasa takut, ketika hendak menulis. Takut tulisan tidak sesuai dengan kenyataan, atau tidak berbuah pada tindakan, yang akan mengundang kebencian yang Maha Penyayang.
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (QS As-shaff 61 :2-3)
Tapi di sisi lain, dengan menulis ada semangat yang mengalir dalam jiwa ini. Ketika menulis kembali sejarah para nabi yang penuh hikmah, seakan terekontruksi kembali apa yang terjadi saat itu. Dan mengisi relung-relung jiwa yang rapuh ini. Ketika menulis nasihat dan nilai kebaikan, ada semacam gema, di mana nasihat dan nilai kebaikan itu kembali pada akal dan hati ini, bahkan berkali-kali. Layaknya gema, tulisan itu berbicara lebih banyak pada diri saya sendiri. Apalagi sesekali ada tanggapan positif atas tulisan itu, seakan gema itu bertambah nyaring bernyayi dalam senandung jiwa ini.
|
|
Assalamu’alaikum wr wb
 Ilustrasi Jalanan memang menjadi kelas yang sering mengajarkan tema kesabaran. Sabar harus rem mendadak karena tiba – tiba ada yang nyebrang bukan pada tempatnya, sabar karena di salip orang, sabar karena di suruh minggir oleh konvoi yang sok jadi penguasa jalan, sabar karena macet, karena lampu merah yang mati, karena angkot yang ngetem, dst, ya…, latihan kesabaran seakan tak pernah absent di lembaran jalanan. Tapi, kali ini, di akhir pekan, ada pelajaran lain, yang di berikan di kelas jalanan. Sedikit menyakitkan memang, seperti di ketok kepala (bahasa jermannya : diteke), dengan kejadian ini, tapi sedikit celah, ternyata tetap ada hikmah yang bisa di petik.
|
|
Sakedik ah curat-coret, ngemutan ka diri sendiri, tapi mugia mangpaat ka nu sanesna..
Seorang wanita - yang lebih tepat dibilang nenek, dari pada ibu -berkerudung cokelat, bersendal jepit, dan dua anak kecil berseragam SD, di suatu siang yang lebih panas dari biasanya, hawanya lebih gerah, sinar mataharinya lebih terik, membuat keringat meluncur dari pori-pori lebih lincah. Ketiga sosok itu, sudah beberapa kali saya dapati, biasanya sekitar ba’da dzuhur, sepulang dari masjid. Dan seperti pemandangan sebelumnya, nenek itu tetap dengan kresek besarnya, dan dua anak kecil itu tetap dengan keceriaan lugunya, seakan tak peduli dengan panas yang menyengat kulit.
|
|
|