| Ada yang mau nitip "es kelapa syurga" ? |
| Written by Tedi Darussalam |
|
Sakedik ah curat-coret, ngemutan ka diri sendiri, tapi mugia mangpaat ka nu sanesna.. Seorang wanita - yang lebih tepat dibilang nenek, dari pada ibu -berkerudung cokelat, bersendal jepit, dan dua anak kecil berseragam SD, di suatu siang yang lebih panas dari biasanya, hawanya lebih gerah, sinar mataharinya lebih terik, membuat keringat meluncur dari pori-pori lebih lincah. Ketiga sosok itu, sudah beberapa kali saya dapati, biasanya sekitar ba’da dzuhur, sepulang dari masjid. Dan seperti pemandangan sebelumnya, nenek itu tetap dengan kresek besarnya, dan dua anak kecil itu tetap dengan keceriaan lugunya, seakan tak peduli dengan panas yang menyengat kulit. Kalau boleh saya menebak pemandangan itu, ialah lukisan seorang nenek yang menjemput cucu-cucunya pulang sekolah, menemani mereka berjalan tanpa kendaraan, menjaga mereka dari salah jalan, dan mengajarkan mereka tentang dua hal “cinta dan pengorbanan”. Entah kemana pulangnya, tapi disepanjang jalan yang masih tertangkap dengan dua mata yang rapuh ini, sang nenek selalu memunggut sampah bekas kemasan air, baik yang gelas, apalagi yang botolan, mata tuanya seakan sama tajamnya bahkan mungkin lebih tajam dari elang yang mengintai mangsanya. Ia membungkuk, dan memasukannya kedalam kresek, kadang ia menyuruh kedua cucunya untuk mengambilkannya. Masa tua yang berat, bukankah seharusnya masa tua itu masa untuk istirahat, bukankah seharusnya kulit tua itu jauh dari sengatan matahari, bukankah tubuh yang renta itu seharusnya duduk di sejuknya rumah, dan berbaring di empuknya kasur? kalau bukan karena cinta dan pengorbanan, nenek itu mungkin memilih jawaban “iya” atas pertanyaan – pertanyaan tadi. Tapi kecintaannya pada anak cucunya, menguatkan tubuh rentanya untuk kuat berjalan, di siang terik, bahkan sambil mencari nafkah. Lamat namun agak jelas, keceriaan kakak adik berseragam merah putih itu berbicara, “nek..pengan es kelapa muda…” sahut yang lebih kecil, sambil menunjukan tangannya ke seberang jalan, di pojok tikungan, yang terpampang tulisan ”es kelapa muda Rp.2500”. barangkali bagi kita, uang Rp.2500, tak seberapa, tapi bagi nenek itu, yang mengumpulkan kemasan air bekas, yang memilih jalan kaki di panas terik dari pada naik kendaraan, Rp.2500 cukuplah besar. Tapi lagi-lagi – dengan cinta dan pengorbanan – nenek itu merogoh saku di kain bajunya yang sudah agak lusuh termakan waktu, dan mengulurkan pada cucu kecilnya itu. Selang beberapa menit, si kecil sudah bergabung lagi dengan kakak dan neneknya. Dengan amat nikmat, ia minum es kelapa itu, seakan sedotan kecil tak cukup lebar untuk menyalurkan semangat minumnya. Entah karena keterbatasan atau karena ingin mengajarkan kebersamaan, sang nenek hanya membelikan satu plastik. “dik, bagi dong…”ujar kakaknya.., “enak aja, beli aja sendiri…!,s aya kan udah cape, panas-panasan & lari-larian ke sana !” jawab adiknya yang sekitar bibirnya tak lagi kering. Entah apa yang dibisikan sang nenek, terlalu pelan untuk di bawa angin sampai ke telinga saya.., yang akhirnya membuat si adik cukup legowo menyodorkan sebagian sisanya –yang tinggal sedikit- untuk sang kakak. Ke 3 dosen kehidupan siang itu, sudah mengingatkan lagi tentang arti perjuangan dalam hidup, menerima rizki pemberian tuhan, mengalah untuk berbagi pada saudara, berusaha sekemampuan, dst, Jika sejenak kita amati, dalam lembaran al-quran, ada ayat yang agak mirip dengan situasi itu, yaitu ketika umat islam mesti berangkat membela kepercayaannya, melindungi anak istrinya, dari rongrongan musuh – musuh islam, ketika Rasulullah saw, sang pemimpin pasukan itu mengintruksikan untuk berangkat, ada beberapa orang munafik yang beralasan tidak bisa ikut, karena panas terik matahari di tengah padang pasir, yang hampir tanpa pepohonan, dan yang lebih tepat dari itu- karena ketakutan mereka terhadap kematian. “Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui” (QS 9:81). Mereka tak mau berkorban, ketika masa pengorbanan itu dihadirkan, akhirnya ketika tiba masa perhitungan, mereka tak lagi bisa beralasan, untuk mengelak dari pembalasan. Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu." Mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka." Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS 7:50-51) Ada obrolan di akhirat kelak, yang telah Allah swt bocorkan dari sekarang, dimana penghuni neraka yang amat kehausan, di tengah panasnya golakan api siksaan, mereka memelas sebisa-bisanya, untuk meminta setetes air pada penghuni syurga, namun karena Allah telah mengharamkan, penghuni syurga itu tak kuasa membaginya. Bayangkan bisa jadi situasi itu, adalah antara kita dan saudara kita, antara anak dan ibu bapaknya, antara cucu dan nenk kakeknya, antara suami dan istrinya, karena hanya cinta berlandaskan cinta karena Allah lah yang akan kekal hingga akhirat, adapun cinta yang sebatas duniawi, akan sirna, seiring sirnanya usia. Mungkin ada –jika tak dibilang banyak- adik yang rajin membaca al-quran, sementara kakaknya tak mengerti “idgham ikhfa” di usianya yang sudah setengah jalan. Mungkin juga ada, seorang anak yang berbalut kerudung panjang, tapi ibunya masih berpakaian seadanya. Mungkin ada seorang suami yang dermawan, tapi istrinya gemar menggunjing teman, mungkin ada cucu yang berdiri shalat malam, tapi kakek nya masih percaya perdukuanan. Relakah kita, jika ketika ayah kita kehausan di panasnya siang, ia meminta minum pada kita barang setetes, tapi kita tak membaginya? ataukah tegakah kita, ketika anak kita yang sekuat tenaga kita besarkan, merengek minta minum, tapi kita tak memberinya? jika di panasnya dunia saja tak rela, apalah lagi kelak di panasnya akhirat. Betul kata si adik tadi “enak aja, beli aja sendiri…!, saya kan udah cape, panas-panasan & lari-larian ke sana !”. Untuk merasakan kesejukan, diperlukan pengorbanan. Tak hanya didunia, hukum ini juga berlaku untuk kesejukan akhirat, kadang kita perlu berkorban “kehilangan sebagian uang” (padahal itu uang titipan tuhan), kadang waktu tidur kita terpotong, kadang perut kita menahan lapar disaat orang lain makan siang, dan pengorbanan lainnya yang kita lakukan –untuk dan karena Allah swt-, sejatinya ialah untuk kesejukan kelak dimana tak ada lagi tempat perlindungan. Semoga kita termasuk orang-orang yang diampuni dosa dan khilafnya, di berikan kekuatan cinta dan pengorbanan, serta dikumpulkan bersama keluarga kita, di tempat pengistirahatan yang… “di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersengatan.” (QS 76:13) “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS 52:21)
Wallohu'alam ( 0 Votes ) |