| Bersahabat dengan ke"tiba-tiba"an |
| Written by Tedi Darussalam |
|
Assalamu'alaikum wr wb Hujan yang cukup deras, menggenangi tak hanya bumi yang sudah tua, tapi juga membasahi hati yang demikian kering. Suara guntur tak hanya menggetarkan daun telinga, tapi juga menggedor hati yang hampir tertutup, kilatan cahaya petir tak hanya menyilaukan mata, tapi juga menyemburatkan cahaya untuk hati yang hampir gelap. Rasa syukur karena atap diatas kepala masih kokoh, sementara di luar sana banyak yang harus geser – geser kursi, pasang ember, panci, dan penalang air lainya karena atap yang bocor. Rasa syukur, karena dinding kita cukup kokoh melindungi dari angin dan cuaca dingin, kasur kita cukup empuk, dan selimut kita cukup tebal, lengkap ditemani menu minuman dan makanan hangat –yang tinggal kita pilih (enaknya makan apa ya? masak mie pake telor, atau beli bakso, seduh susu, dst)- untuk pengusir kedingingan. Sementara diluar sana banyak pedagang es yang pulang kehujanan, dengan dagangan yang masih tersisa, sementara istri dan anak-anaknya menunggu penuh harap di balik dinding triplek, jangankan memilih menu makanan, menyediakan yang seharusnya ada saja belum pasti. Jangankan selimut tebal dan kasur yang empuk, mengenakan pakaian layak yang menghangatkan saja sudah untung. Walaupun disisi lain, pedagang baso, pedagang jas hujan, anak – anak penjaja ojeg payung, pedagang makanan di kemacetan, dan pedagang lainnya yang diuntungkan oleh hujan, sangat gembira menyambut datangnya hujan. Juga para petani yang senang karena sawah dan kebunnya lebih subur. Begitulah satu pemberian langit, bisa jadi musibah bagi sebagian, sekaligus menjadi rahmat bagi sebagian lainnya. Mungkin kita gembira, dengan kejadian tertentu, tapi coba kita peka, barangkali ada pihak lain yang dirugikan, sehingga kita tak terlampau lupa diri. Sebaliknya, mungkin kita kecewa dengan apa yang menimpa, (“plis ya allah, jangan hujan, biar acaranya berhasil dan banyak yang dateng”, atau “ya… hujan..,kacau deh..”, dan yang senada lainnya), tapi coba kita peka, barangkali ada pihak lain yang tersenyum bahagia, sehingga kita tak terlampau sedih, apalagi menggerutu. Ngomong-ngomong tentang hujan, kadang ia datang tiba-tiba, tanpa angin yang mendahului, atau tanpa awan gelap yang menggelayuti. Tadi pagi cerah, eh siangnya hujan. Berangkat tanpa persiapan, eh tau –tau hujan lebat. Belum sempet “jait” jemuran, eh keburu kehujanan. Ya..., ketiba-tibaan, memang hadir dalam keseharian kita, cukup mengagetkan. Persis seperti ketiba-tibaan mati lampu, yang membuat pekerjaan kita terhenti, roda bisnis tersumbat, kegiatan belajar tersendat, apalagi kalau ketikan kita belum di save, harus mengulang dari awal lagi...(makasih Pa PLN..,one finger 4 u :d). tapi begitulah memang ketiba-tibaan, bukan dikatakan tiba-tiba jika kita sudah tahu dan mempersiapkannya. Sedia jas hujan, bawa payung, beli lilin, charge HP, save document, maintenance genset, dst, relative bisa meminimalisir dampak si “tiba-tiba” itu. Dalam kehidupan yang lebih luas, ketiba-tibaan juga memiliki eksistensi, ia menempati ruang yang sudah pasti. Salah satunya adalah kematian, yang setiap kita sudah pasti akan masuk ke ruangannya, meresakan aromanya di setiap mili pori-pori dan urat nadi kita, yang keberanian tak lebih mendekatkan kita darinya, sebagaimana kepengecutan tak lebih menjauhkan kita padanya, jika waktu yang ditentukan sudah menemukan momentnya, tak ada perpanjangan waktu, barang sepersekian detikpun. Jika kematian adalah kepastian dan ketiba-tibaan, maka perhatian kita, bukan kapan kita akan mati ? atau dimana kita akan mati dan bagaimana prosesi pemakaman kita? "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Luqman :34) "Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu- raguan terhadap Al Quran, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat." (QS. Al Hajj :55) Tapi yang jauh lebih penting dari itu, bagaimana saat kematian tiba-tiba menghampiri kita, apa bekal yang sudah kita bawa, apa amal yang sudah kita “beli”?, karena jawaban-jawaban itulah – yang jika kita bisa jawab dengan tenang dan yakin- yang akan menentukan sejauh mana kebahagiaan dan kesengsaraan yang akan kita rasakan kelak. Ketiba-tibaan yang lainnya dalam arena kehidupan kita, adalah kiamat. Baik kiamat kecil maupun kiamat besar. Tiba – tiba saja, kita menerima kabar, ibu atau bapak kita meninggal, padahal kita belum optimal berbakti, kita masih terlena dengan ke egoisan diri, atau tiba – tiba bayi dalam kandungan istri kita keguguran, atau tiba – tiba anak kita tertabrak mobil saat pulang sekolah, padahal kita belum optimal menyayangi dan membimbingnya, atau tiba – tiba saja rumah kita kebakaran, tanpa sempat kita selamatkan barang – barang berharga di dalamnya. Atau tiba – tiba gempa, longsor, banjir, dan musibah lainnya. Atau bahkan tiba-tiba kiamat! Ketiba-tibaan kiamat kecil itu – gempa, ledakan, dst, termasuk kematian kita- bisa datang kapan saja, saat kita terlelap tertidur, atau saat kita sibuk bekerja. "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. Al-A’raf : 97-99) Dan ketiba-tibaan kiamat besar, ialah suatu info langit yang tak terbantahkan, lancang kiranya jika ada makhluk bumi yang sok tahu tentangnya. Biarlah ia tetap dalam ruang ‘ketiba-tiba’annya, sehingga kita merasa takut dan butuh pada pertolonganNya, serta sibuk berbuat baik, sebagai persiapan bertemu denganNya. "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba." Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Al-A’raf : 187) Jadi, perhatian kita, bukan kapan kiamat itu datang, 2012 kah, 2100 kah , atau bahkan jumat besok? tapi energi kita terfokus pada bagaimana kita mempersiapkannya. Tema pembicaraan kita berkisar pada bagaimana kita berbekal untuk selamat setelahnya, dan perkumpulan kita berusaha pada bagaimana kita bisa saling bersinergi dalam kebaikan dan kemanfaatan, sehingga kita bisa menerima tamu ketiba-tibaan itu, dengan elegan, dan akhirnya, malaikat penjaga syurga itu, mengucapkan selamat datang pada saat kita dipersilahkan memasuki gerbang keindahan.. "(yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan" (QS. An Nahl : 31-32)
Mohon maaf dan mudah-mudahan bermanfaat. ( 0 Votes ) |