Forum Pembangunan

"Usaha yang halal itu lebih berat daripada memindah bukit ke atas bukit."
~ Ibnu Abbas
Mari Perhatikan dan Patuhi Rambu Kehidupan
Written by Tedi Darussalam   

Assalamu’alaikum wr wb

Ilustrasi

Jalanan memang menjadi kelas yang sering mengajarkan tema kesabaran. Sabar harus rem mendadak karena tiba – tiba ada yang nyebrang bukan pada tempatnya, sabar karena di salip orang, sabar karena  di suruh minggir oleh konvoi yang sok jadi penguasa jalan, sabar karena macet, karena lampu merah yang mati, karena angkot yang ngetem, dst, ya…, latihan kesabaran seakan tak pernah absent di lembaran jalanan. Tapi, kali ini, di akhir pekan, ada pelajaran lain, yang di berikan di kelas jalanan. Sedikit menyakitkan memang, seperti di ketok kepala (bahasa jermannya : diteke), dengan kejadian ini, tapi sedikit celah, ternyata tetap ada hikmah yang bisa di petik.

Ditemani motor yang sudah tampak kotor, saya melaju menuju tempat tujuan. Jalanan lengang diakhir pekan, begitupun pom bensin yang tak ada antrian. Semuanya tampak lancar, di temani sinar mentari pagi yang mulai menyilaukan. Lampu merah demi lampu merah dilalui, lubang demi lubang jalanan di lewati, sambil mendengarkan mp3, pikiran ini tetap melayang kesana kemari. Sampai tiba di suatu perempatan jalan, lampu merah dihadapan, sayapun menghentikan laju kendaraan, motor-motor berdesakan mengisi kekosongan jalan, hanya sekedar ingin jadi yang terdepan. Tampak pak polisi berkacamata hitam, mengatur kendaraan. Sambil tangan kanannya memegang walky talky, tangan kirinya melambai-lambai, tanda kendaraan dari arah berlawanan segera berjalan. Selang beberapa lama, lampu merah berganti hijau. Tangan kiri pak polisi menyetop arah depan, dan mempersilahkan jalur saya, segera maju.

Tapi, masih ada motor yang nyelonong dari arah depan, mencoba mengejar lampu kuning yang sudah nyaris hijau, sambil menghindari polisi, sembunyi membuntuti dibelakang mobil terakhir. Naasnya, mata polisi tak bisa dikelabui, ia stop mobil itu, dan “catch you!”, pa polisi, menyuruh pengemudi motor itu, kepinggir jalan, sambil sebelumnya ia sudah pegang sim si pengemudi, mungkin supaya ga kabur. Sambil menunggu giliran antrian motor, dan angkot yang ngetem, padahal lampu sudah hijau, pandangan saya masih tertuju ke pengemudi yang naas tadi, "kasian banget deh, pagi-pagi harus udah infak, padahal cuman lebih cepet berapa menit sih? nerobos lampu merah, coba kalau sabar, 5 menit aja, kali ga bakal di tilang."

Perjalanan dilanjutkan, khayalan mulai kembali berseliweran, mata kadang masih suka belanja kiri kanan, ada tulisan “jalur maut, ngebut TOLOL..!!!”, atau ada juga “yang buang sampah disini monyet!” ya ampuun, tak adakah kata-kata yang lebih sopan? atau memang, nilai kesopanan sudah mulai terkikis secara perlahan.

Lampu merah lagi, tak ada polisi, pertigaannya cukup sepi, beberapa motor didepan langsung menerobos, “ups, kok pada nerobos, gmn nih? Ikut aja, apa patuhi peraturan..?” satu dua motor dari belakang sudah ngambil keputusan, jalan walau lampu merah masih menyala, “wahh.., ya sudah ikut aja ah, sepi ini, ga ada polisi lagi” . Oh ternyata, patuh karena ada yang lihat, dan berani karena banyak yang melakukan, kalau tidak ada polisi, peraturan ga apa apa di langgar, kalau banyak yang melakukan, yang salah bisa di benarkan! “whats? kesimpulan yang salah kayaknya”.

Perjalanan tetap di lanjutkan, tanpa boncengan, tanpa obrolan, sendirian! waktu mulai siang, agak ngebut ah, biar cepet sampai. Satu dua mobil dilewati, agak jauh didepan ada perempatan jalan, hitungan mundur lampu hijau sudah menunjukan angka 11,10, 9 “wah…, saya tancap gas, supaya ga kena lampu merah, pasti masih bisa…! Buzz..”.Ini perempatan terakhir, saya harus mepet ke kanan jalan, karena didepan harus belok kanan. Dan “yes.., dapet juga!”, hitungan 3 menuju 2, sudah berhasil belok kanan. Eits, kenapa ada rompi hijau, helm putih, maju ketengah jalan...? berjalan menghalangi motor saya..? ada apa ini, kan saya ga nerobos lampu merah? masih hijau kok! pa polisi itu, mengangkat tangannya, tanda supaya saya menghentikan motor, lalu dia menyuruh saya minggir.

“selamat siang pak” ujar pak polisi berwibawa, sambil hormat, “bapak tau kesalahannya?” , “apa pak?, tadi masih hijau kan pa?” Tanya saya heran. “iya memang masih hijau, tapi bapak tidak baca rambu itu? “ jelas pa polisi, sambil menunjuk ke rambu sekitar 2 meter sebelum lampu merah, “tidak boleh langsung ke kanan, dari jam 9 sampai jam 15. bahaya pa!, nanti bapak ketabrak dari depan gimana?” jelas pa polisi, sambil mengeluarkan kertas dan pulpen dari saku sepatunya. “Waduh kena juga.., nasib nasib..” dalam hati saya, lalu pa polisi seakan tak mau berlama-lama “sim nya mana pak? mau di sidang apa gimana?” . “waduh pa, saya ga tau, kalau ada ada jam-jaman, saya kan jarang lewat sini” sambil pasang wajah ramah campur memelas. “ya terserah bapak, kalau di sidang, nanti munggu depan baru bisa di proses..atau terserah bapa mau gimana!” jawab pa polisi agak tegas, Well, daripada urusan panjang, saya juga tahu apa yang diharapkan pa polisi, saya rogoh saku celana, uang dua puluh ribuan, saya relakan berpindah tangan, sambil salaman, saya bawa lagi sim yang sempat tertahan.

Kesel.., agak marah, protes, gondok, merasa rugi dan perasaan negatif lainnya, mulai memenuhi hati dan pikiran. “Sial..sial..!”, sisa perjalanan tak lagi menyenangkan. Lemas mulai menggerayangi tangan, pundak, leher dan menjalar hampir ke kaki.

"Stop…stop.., selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, memang rela menjadikan hari ini sedih, hanya gara-gara 20 ribu? ayo cari hikmahnya…! Jangan izinkan kebahagiaan sepanjang hari ini tersita oleh sepenggal eposide di pagi hari menjelang siang ini!”

Saya hirup nafas agak panjang, perlahan saya keluarkan, sambil meyakinkan diri…pasti ada hikmahnya..! Ok, bukan apa yang terjadi, tapi bagaimana kita memaknai apa yang terjadi. Bukan peristiwanya, tapi respon terhadap peristiwa yang membedakan orang yang rugi dengan orang yang beruntung, karena bisa mengambil hikmah.

Seakan-akan pohon di samping kiri dan kanan, mengamini dan menyemangati, “ayo..teman, jangan bersedih, buka pikiran, ambilah pelajaran..”, arak-arakan awan putih yang bergerak di tiup angin, di bawah indahnya langit biru, seakan tak ketinggalan “ hidup harus tetap berjalan kawan, hiduplah dengan keberlimpahan..”, sinar matahari yang memantul di kaca helm, dan semilir angin yang menyelinap melalui celahnya, seakan ikut-ikutan membisikan “Tuhan mencintaimu, kadang dengan cara-Nya, instrospeksilah..!”

Ok teman-teman, terimakasih dukungannya…, saya coba isi sekemampuan di lembar jawaban yang disodorkan Tuhan, yang diatasnya bertuliskan “tulislah hikmah dari kejadian barusan!”

  1. Emang kadang saya lupa berinfak, kalaupun berinfak kadang-kadang itung-itungan. Padahal didalam harta yang saya pegang, ada hak orang lain. Kadang saya biarkan kencleng masjid berlalu dihadapan, kadang saya cuekan tangan yang menengadah di depan mata, pura-pura sibuk, jarang saya mengeluarkan uang lebih besar untuk berinfak ketimbang untuk urusan perut dan penampilan. Ok ya Rabb, saya ngaku salah, masih beruntung Engkau menegur saya dengan cara halus, padahal Engkau maha kuasa mengingatkan saya dengan cara yang lebih menyakitkan, tabrakan, kehilangan motor, kecurian Hp atau dompet, kebakaran rumah, sakit yang perlu berobat mahal, nabrak mobil orang, dst, yang tak hanya menelan banyak biaya, tapi juga fisik, waktu dan perasaaan. Trims ya Rabb, Engkau telah mengingatkan, dengan teguran kasih sayang.
  2. Peraturan itu dibuat untuk kebaikan kita, kalau di pikir-pikir, bener juga kata pa polisi tadi  "..bahaya pa !, nanti bapak ketabrak dari depan gimana?", sebetulnya peraturan itu dibuat untuk kebaikan dan keselamatan kita kok. Supaya lebih teratur, dan kecelakaan bisa di hindari. Jadi, hargailah diri kita, dengan mematuhi peraturan, karena melanggar peraturan bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga bisa membahayakan orang lain. Begitupun dengan peraturan yang diturunkan Tuhan (syariat Allah SWT), tak lain, adalah untuk kemudahan, keselamatan, kesuksesan dan kebahagiaan kita, di dunia dan akhirat, bukan untuk membebani kita, jika kita melanggarnya, tak hanya bahaya di dunia, tapi juga bahaya di akhirat kelak.
  3. Baca dan perhatikan rambu. Rambu dibuat untuk dibaca, di perhatikan, dan dipatuhi. Kalau saya tadi sempet baca, pasti tak berani langsung belok kanan. Tapi karena tak memperhatikan, akhirnya kena tilang. Begitupun kehidupan, ada rambu-rambunya tersendiri, ada etika, adat, sopan santun, yang berlaku, kadang tak terpampang di pinggir jalan, tapi sudah disepakati secara umum. Melanggar rambu, berarti memasuki daerah bahaya. Rambunya bukan “dilarang parkir”, tapi “dilarang ingkar janji”, jika kita melanggarnya, maka kita memasuki daerah kehilangan kepercayaan, ada rambu lagi “jalanan licin, kurangi kecepatan”, jika saat banyak ujian kehidupan, di saat larut dalam rutinitas yang hampa makna, disaat jiwa dan pikiran hanya didominasi dunia, sementara akhirat terpinggirkan, pintu dunia terbuka lebar, tapi kedekatan dengan Allah swt terasa hambar, berhentilah sejenak, atau minimal kurangilah kecepatan, karena jika tidak, bisa tergelincir dari keimanan, terjatuh, dan kehilangan semuanya. Rambu-rambu Tuhan, sudah tercantum dalam Al-Quran, dan di contohkan oleh Rasulullah saw sang tauladan, jika kita tak bisa membaca al-quran, tak menyempatkan membaca hadist, atau tak menglokasikan belajar keduanya, bagaimana kita bisa membaca rambu-rambu itu? bagimana kita bisa selamat sampai tujuan? Al-quran dan As-sunnah, ialah rambu kehidupan, untuk kebahagiaan kita dan orang-orang yang kita cintai, di dunia dan akhirat.
  4. Kasih sayang Allah swt dalam penundaan hukuman. Coba bayangkan kalau setiap kesalahan vertical kita, langsung di balas olehNya? Bisa bonyok tak karuan, kurus krempeng tak ada harapan. "maaf, makan malam anda ditunda sampai besok, karena tadi subuh anda terlambat shalat", ujar malaikat.. , "mohon maaf, mata anda saya ambil satu, karena akumulasi maksiat mata anda sudah melampui batas minimal, tanpa upaya istighfar" atau, "hari ini anda sudah berbohong 5 kali, denda perbohong Rp.10.000, total Rp.50.000, saya tahu anda agak pelit, wong suruh infak Rp.5000 aja pikir-pikir, jadi anda berhak mendapat sakit demam plus bisul, total pengobatan Rp.50.000", dst.. dst. Wah ..wah, bisa berabe kalau hukuman langsung kontan sekarang! 
    Tapi subhanallah wal hamdulillah, Allah maha pengasih dan penyayang pada kita hambaNya, Dia memberikan kita kesempatan bertaubat dan memperbaiki diri, dia akan menghapus setiap kesalahan dengan kebaikan yang kita lakukan, dia menengur kita dengan teguran kasih sayang, jika kita peka. Tapi jika kita bebal, teguran yang lebih besar segera menyusul, atau jika maksiat demi maksiat terus di lakukan, sementara balasan di dunia tak kunjung datang, kehidupan normal-normal saja, yakinlah…, balasan lebih menyakitkan menunggu di nikmati kelak di akhirat! na’udzubillah..
    "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS 6:44)
  5. Grateful Delay. Di satu sisi penundaan hukuman adalah nikmat, di sisi lainnya penundaan balasan kebaikan juga merupakan nikmat sekaligus ujian. Coba kalau gini "bagi setiap yang shalat berjamaah, akan mendapat cash Rp.27.000”, jadi kalau 5 kali berjamaah = Rp.135.000, wah mesjid pasti penuh tuh, lumayan sebulan bisa dapet Rp.4.050.000. Atau “siapa yang baca al-quran selembar, berhak mendapat voucher belanja sebesar Rp.50.000, dan berlaku kelipatannya" waduuh, pasti banyak yang baca al-quran, bahkan berlembar-lembar. Atau "barang siapa bersedekah, akan dikembalikan minimal dua kali lipatnya, tanpa di undi", Wew, yang ini menarik banget, pasti bisa jadi orang kaya, dst dst. Tapi ternyata, Allah swt menunda balasannya, inilah ujian dari Nya, untuk mengetahui siapa diantara kita yang benar-benar beriman, sabar dan bersungguh-sungguh. Walau dengan kasih sayangNya pula, Dia seringkali mempercepat balasan itu di dunia, dengan caraNya, tak mesti selalu dengan uang yang berlipat, tapi bisa jadi dengan kesehatan, dengan keselamatan, dengan keharmonisan keluarga, dengan kerukunan bertetangga, dst. Jika kita mau menunda menikmati kesenangan hari ini, kelak kita akan mendapat kesenangan yang jauh lebih besar esok hari.
  6. Jangan terburu – buru. Memang lebih cepat berapa menit sih, dengan menerobos lampu merah? memang lebih telat berapa menit sih, kalau kita mematuhi lampu merah? tak lama kan, tapi kok kenapa mesti rela mengambil resiko, membahayakan diri dan orang lain, atau minimal kena tilang polisi?. Rencanakan waktu perjalanan dengan tenggang waktu, dan kalaupun terburu-buru, tetaplah patuhi rambu-rambu, seperti pesan jasa marga “keluarga menanti anda di rumah”, jalanan bukan sirkuit balapan, lampu merah juga bukan tanda start. Jadi santai aja, ga usah tergesa-gesa, karena ia merupakan salah satu langkah setan.
    “Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (HR Baihaqi)

Mmh, apa lagi ya, kayaknya sudah dulu ah, lagian tak ada yang bisa saya contek, udah ya Rabb, ini…! Dikumpulin ke mana?, daun yang berguguran tertiup angin, seperti berteriak, agak keras, "ga di kumpulin kok, Allah tuh ga ngeliat seberapa panjang dan intelek jawaban kamu, tapi Allah ngliat realisasi dari sikap kamu!"

Semoga kita di berikan hidayah dan inayahNya, sehingga bisa selamat menempuh perjalanan sementara yang penuh ujian  ini, hingga sampai ke tujuan, menikmat jamuan penuh kenikmatan, bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Amiin

Wallohu'alam, semoga bermanfaat

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine

( 1 Vote )
 

Add comment


Security code
Refresh