| Mari Perhatikan dan Patuhi Rambu Kehidupan |
| Written by Tedi Darussalam |
|
Assalamu’alaikum wr wb ![]() Ilustrasi Jalanan memang menjadi kelas yang sering mengajarkan tema kesabaran. Sabar harus rem mendadak karena tiba – tiba ada yang nyebrang bukan pada tempatnya, sabar karena di salip orang, sabar karena di suruh minggir oleh konvoi yang sok jadi penguasa jalan, sabar karena macet, karena lampu merah yang mati, karena angkot yang ngetem, dst, ya…, latihan kesabaran seakan tak pernah absent di lembaran jalanan. Tapi, kali ini, di akhir pekan, ada pelajaran lain, yang di berikan di kelas jalanan. Sedikit menyakitkan memang, seperti di ketok kepala (bahasa jermannya : diteke), dengan kejadian ini, tapi sedikit celah, ternyata tetap ada hikmah yang bisa di petik. Ditemani motor yang sudah tampak kotor, saya melaju menuju tempat tujuan. Jalanan lengang diakhir pekan, begitupun pom bensin yang tak ada antrian. Semuanya tampak lancar, di temani sinar mentari pagi yang mulai menyilaukan. Lampu merah demi lampu merah dilalui, lubang demi lubang jalanan di lewati, sambil mendengarkan mp3, pikiran ini tetap melayang kesana kemari. Sampai tiba di suatu perempatan jalan, lampu merah dihadapan, sayapun menghentikan laju kendaraan, motor-motor berdesakan mengisi kekosongan jalan, hanya sekedar ingin jadi yang terdepan. Tampak pak polisi berkacamata hitam, mengatur kendaraan. Sambil tangan kanannya memegang walky talky, tangan kirinya melambai-lambai, tanda kendaraan dari arah berlawanan segera berjalan. Selang beberapa lama, lampu merah berganti hijau. Tangan kiri pak polisi menyetop arah depan, dan mempersilahkan jalur saya, segera maju. Tapi, masih ada motor yang nyelonong dari arah depan, mencoba mengejar lampu kuning yang sudah nyaris hijau, sambil menghindari polisi, sembunyi membuntuti dibelakang mobil terakhir. Naasnya, mata polisi tak bisa dikelabui, ia stop mobil itu, dan “catch you!”, pa polisi, menyuruh pengemudi motor itu, kepinggir jalan, sambil sebelumnya ia sudah pegang sim si pengemudi, mungkin supaya ga kabur. Sambil menunggu giliran antrian motor, dan angkot yang ngetem, padahal lampu sudah hijau, pandangan saya masih tertuju ke pengemudi yang naas tadi, "kasian banget deh, pagi-pagi harus udah infak, padahal cuman lebih cepet berapa menit sih? nerobos lampu merah, coba kalau sabar, 5 menit aja, kali ga bakal di tilang." Perjalanan dilanjutkan, khayalan mulai kembali berseliweran, mata kadang masih suka belanja kiri kanan, ada tulisan “jalur maut, ngebut TOLOL..!!!”, atau ada juga “yang buang sampah disini monyet!” ya ampuun, tak adakah kata-kata yang lebih sopan? atau memang, nilai kesopanan sudah mulai terkikis secara perlahan. Lampu merah lagi, tak ada polisi, pertigaannya cukup sepi, beberapa motor didepan langsung menerobos, “ups, kok pada nerobos, gmn nih? Ikut aja, apa patuhi peraturan..?” satu dua motor dari belakang sudah ngambil keputusan, jalan walau lampu merah masih menyala, “wahh.., ya sudah ikut aja ah, sepi ini, ga ada polisi lagi” . Oh ternyata, patuh karena ada yang lihat, dan berani karena banyak yang melakukan, kalau tidak ada polisi, peraturan ga apa apa di langgar, kalau banyak yang melakukan, yang salah bisa di benarkan! “whats? kesimpulan yang salah kayaknya”. Perjalanan tetap di lanjutkan, tanpa boncengan, tanpa obrolan, sendirian! waktu mulai siang, agak ngebut ah, biar cepet sampai. Satu dua mobil dilewati, agak jauh didepan ada perempatan jalan, hitungan mundur lampu hijau sudah menunjukan angka 11,10, 9 “wah…, saya tancap gas, supaya ga kena lampu merah, pasti masih bisa…! Buzz..”.Ini perempatan terakhir, saya harus mepet ke kanan jalan, karena didepan harus belok kanan. Dan “yes.., dapet juga!”, hitungan 3 menuju 2, sudah berhasil belok kanan. Eits, kenapa ada rompi hijau, helm putih, maju ketengah jalan...? berjalan menghalangi motor saya..? ada apa ini, kan saya ga nerobos lampu merah? masih hijau kok! pa polisi itu, mengangkat tangannya, tanda supaya saya menghentikan motor, lalu dia menyuruh saya minggir. “selamat siang pak” ujar pak polisi berwibawa, sambil hormat, “bapak tau kesalahannya?” , “apa pak?, tadi masih hijau kan pa?” Tanya saya heran. “iya memang masih hijau, tapi bapak tidak baca rambu itu? “ jelas pa polisi, sambil menunjuk ke rambu sekitar 2 meter sebelum lampu merah, “tidak boleh langsung ke kanan, dari jam 9 sampai jam 15. bahaya pa!, nanti bapak ketabrak dari depan gimana?” jelas pa polisi, sambil mengeluarkan kertas dan pulpen dari saku sepatunya. “Waduh kena juga.., nasib nasib..” dalam hati saya, lalu pa polisi seakan tak mau berlama-lama “sim nya mana pak? mau di sidang apa gimana?” . “waduh pa, saya ga tau, kalau ada ada jam-jaman, saya kan jarang lewat sini” sambil pasang wajah ramah campur memelas. “ya terserah bapak, kalau di sidang, nanti munggu depan baru bisa di proses..atau terserah bapa mau gimana!” jawab pa polisi agak tegas, Well, daripada urusan panjang, saya juga tahu apa yang diharapkan pa polisi, saya rogoh saku celana, uang dua puluh ribuan, saya relakan berpindah tangan, sambil salaman, saya bawa lagi sim yang sempat tertahan. Kesel.., agak marah, protes, gondok, merasa rugi dan perasaan negatif lainnya, mulai memenuhi hati dan pikiran. “Sial..sial..!”, sisa perjalanan tak lagi menyenangkan. Lemas mulai menggerayangi tangan, pundak, leher dan menjalar hampir ke kaki. "Stop…stop.., selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, memang rela menjadikan hari ini sedih, hanya gara-gara 20 ribu? ayo cari hikmahnya…! Jangan izinkan kebahagiaan sepanjang hari ini tersita oleh sepenggal eposide di pagi hari menjelang siang ini!” Saya hirup nafas agak panjang, perlahan saya keluarkan, sambil meyakinkan diri…pasti ada hikmahnya..! Ok, bukan apa yang terjadi, tapi bagaimana kita memaknai apa yang terjadi. Bukan peristiwanya, tapi respon terhadap peristiwa yang membedakan orang yang rugi dengan orang yang beruntung, karena bisa mengambil hikmah. Seakan-akan pohon di samping kiri dan kanan, mengamini dan menyemangati, “ayo..teman, jangan bersedih, buka pikiran, ambilah pelajaran..”, arak-arakan awan putih yang bergerak di tiup angin, di bawah indahnya langit biru, seakan tak ketinggalan “ hidup harus tetap berjalan kawan, hiduplah dengan keberlimpahan..”, sinar matahari yang memantul di kaca helm, dan semilir angin yang menyelinap melalui celahnya, seakan ikut-ikutan membisikan “Tuhan mencintaimu, kadang dengan cara-Nya, instrospeksilah..!” Ok teman-teman, terimakasih dukungannya…, saya coba isi sekemampuan di lembar jawaban yang disodorkan Tuhan, yang diatasnya bertuliskan “tulislah hikmah dari kejadian barusan!”
Mmh, apa lagi ya, kayaknya sudah dulu ah, lagian tak ada yang bisa saya contek, udah ya Rabb, ini…! Dikumpulin ke mana?, daun yang berguguran tertiup angin, seperti berteriak, agak keras, "ga di kumpulin kok, Allah tuh ga ngeliat seberapa panjang dan intelek jawaban kamu, tapi Allah ngliat realisasi dari sikap kamu!" Semoga kita di berikan hidayah dan inayahNya, sehingga bisa selamat menempuh perjalanan sementara yang penuh ujian ini, hingga sampai ke tujuan, menikmat jamuan penuh kenikmatan, bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Amiin Wallohu'alam, semoga bermanfaat ( 1 Vote ) |