| Tapros : Maintenance Hati tools |
| Written by Tedi Darussalam |
| Friday, 01 January 2010 00:00 |
|
Assalamu'alaikum wr. wb. ![]() Ilustrasi Ini mau pada kemana sih orang-orang…?! Bis yang lebih jarang dan para penumpang yang lebih banyak dari biasanya, menjadikan pikiran mulai krisis damai. Libur panjang, memang ga aneh, banyak orang berpergian, entah pulang kampung, rekreasi atau silaturahmi. Bis yang di tunggu akhirnya datang, dengan sedikit perjuangan, akhirnya saya bisa masuk juga, walaupun berdiri, ga apa apa, yang penting bisa sampai tujuan sesuai waktu yang ditargetkan. Padahal harapan awalnya lebih memilih naik bis dari pada motor, supaya bisa baca atau tiduran. Tapi ya…, nasibnya berdiri, itung- itung latihan kekuatan kaki. Diantara para penumpang “apes” itu, ada 3 penumpang yang menyita perhatian saya, lebih tepatnya perasaan kasihan, betapa tidak, ada seorang ibu muda menggendong bayinya, ditemani seorang ibu tua, (hampir nenek-nenek) membawa tas. Mereka satu keluarga kayaknya, terlihat dari obrolan dan barang bawaannya. Yang jadi bikin saya eneg, kok para penumpang laki-laki, ga ada yang mau ngalah, berdiri dan mempersilahkan si ibu muda dengan bayinya, dan si ibu tua, untuk mendapatkan jatah duduk. Malah ada seorang bapak yang duduk bersebelahan dengan istrinya yang sedang menggendong anak, di kursi 2 orang, tiba-tiba dengan cekatan mengambil alih anaknya dari pangkuan ibunya. “trik jitu pa…! biar bisa tetep duduk kan..” (dalam hati, sambil tambah eneg..). Naluri keibuan, akhirnya memainkan perannya, sang ibu tua, yang saya kira merupakan nenek dari sang bayi, memelas pada penumpang laki-laki yang duduk di dekatnya, untuk mengizinkan anaknya dan cucunya duduk. Huuh…, transportasi di Indonesia memang masih banyak yang perlu di benahi, plus mental para penumpangnya. Dari para perokok, pencopet, pengamen, pendagang asongan, pengemis, sampai penumpang yang tipe tak mau ngalah ini. Dari pura-pura tidur, sampai gendong anak. Oke…, eneg jangan dipelihara, nikmati aja perjalanan. Menggerutu juga ga menjadi solusi, lebih baik sekarang dengerin MP3, atau baca buku walau sambil berdiri..! soalnya lagi males ngobrol kanan kiri. Bis berjalan tenang, sambil dengerin MP3, mata ini melihat sosok ibu dengan bayinya tadi, yang kebetulan di kursi persis depan saya. Sementara sang ibu tua (nenek sang bayi), tetap berdiri, tangannya mencengkram kursi, layaknya paspampres bagi anak cucunya. Wajah polos sang bayi yang sedang tidur, memang jadi pemandangan menyejukan. Kadang suka senyum sendiri, melihat wajah bayi yang lucu, polos, damai, tenang, suci, ah…, kadang jadi melebar kemana-mana. Inget Pa Aris, yang seminggu kemarin silaturahim ke rumah, sudah 3 tahun, tapi belum juga di karuniai anak, sudah sering melakukan terapi kesuburan, tapi belum juga ada tanda-tanda. “mohon doa in ya..” pintanya saat itu. Inget juga Kang Nusa, temen deket yang sudah seperti saudara sendiri, istrinya baru lahiran seminggu kemarin, biaya cesarnya lumayan besar, karena Kang Nusa menginginkan yang terbaik buat istri dan anaknya. Kabar terakhir, sang istri pasca persalinan, dianjurkan dokter menjalani terapi tapros. Kata yang baru saya dengar, yang ternyata tapros merupakan merk dagang, untuk obat hormon, tapi karena banyak digunakan, akhirnya tekenal. Mirip seperti aqua, yang sudah biasa orang gunakan untuk menyebut minuman mineral. Obat ini, untuk memberi hormon sintetik (buatan), untuk memproduksi hormon yang kurang, sehingga siklus haid atau harapan hamil dan penyembuhan pasca kelahiran bisa normal lagi. Waktu itu, saya ditanya, “kira-kira ada ga obat herbal untuk pengganti tapros” tanya Kang Nusa suatu waktu melalui telepon, “tapros apaan kang, denger aja baru sekarang..?!”, bla..bla..bla.., Kang Nusa menjelaskan, “soalnya lumayan, sekali suntik tapros, sekitar 1,7 juta..!” paparnya…, Wow, padahal baru kemarin cesar, sekarang mesti terapi tapros. “saya ada kenalan dokter, dan ahli herbal, akang coba aja telp, nanti sy sms in nomer nya”. Silaturahim memang banyak untungnya, kita bisa saling membantu, walau sebatas mereferensikan. Kesempatan nih, amati kalau-kalau ada penumpang yang berdiri dan beranjak turun, segera ambil alih kursinya…,! Selang dua kursi dibelakang, bapak yang menggendong anaknya tadi, turun bersama istrinya…, Wuuzz, segera saya bergerak cepat, dan …., yesss., dapet…, alhamdulillah…, akhirnya bisa duduk juga, saya geser ke deket jendela, mempersilahkan pemburu kursi kosong lainnya menikmati kemenangan yang sama. Belum selesai menikmati kemenangan, mata ini menangkap sosok sang ibu tua tadi, yang masih berdiri menjaga anak dan cucunya…O ow.., dilamtis situation…!, ternyata ga semudah yang dibayangkan untuk mengalah…, duduk memang nyaman banget, kita bisa tiduran, relaks dengerin MP3, sambil baca buku. Jangan lama-lama bernegosiasi dengan setan, yang punya banyak jurus dan cerdik menghadirkan alasan.. Bujuk rayu setan yang makin dipikirkan makin masuk akal, apalagi kursi yang ngdadak lebih empuk dari biasanya. Tapi…, ini kesempatan berbuat baik, ladang amal.., bukankah kebaikan itu bisa menghapus keburukan, “Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan menghapusnya. Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang baik”. (HR. Tirmidzi) Sekarang saatnya mengikis gunungan dosa, sedikit demi sedikit, toh kaki ini masih kuat dibanding kaki sang ibu itu. Kalau ternyata kecelakaan, dan meninggal di perjalanan, berarti bertemu Malaikat Izrail dalam keadaan berbuat baik, bukan dalam ego diri. Akhirnya …”misi mas…, saya mau berdiri, ini buat ibu itu aja..” izin saya ke penumpang disamping, akhirnya ibu itu bisa duduk, dan sama, saya juga didoakan sang ibu.. “amiin..” Alhamdulillah…senengnya jadi bagian kebahagiaan orang lain, rasanya hilang sudah kelelahan kaki yang lama berdiri, seakan tenaga jadi berlipat ganda. Pemandangan kok jadi tampak lebih indah, musik yang didengerin kok jadi tampak lebih syahdu, tempat tujuan kok rasanya cepet banget sampai.., beda dengan yang awal tadi, pas ga rela mesti berdiri, berdesak-desakan, lengkap dengan menyaksikan penumpang yang ga mau ngalah.., seakan waktu berjalan lambat, pemandangan diluar jendela membosankan, yang didengerin juga tak karuan. Padahal situasinya, bisnya, para penumpangnya, masih sama. Tapi kenapa bisa berbeda..? mmhhh, ternyata ada pada suasana hati… Saat ego masih merajai diri, keluhan masih menguasi pikiran ini, hati -disadari atau tidak- jadi tak berenergi, ia menjalar ke kaki sehingga jadi lemes, ia merembet ke telinga jadi kurang nyaman pendengaran, ia merayap ke otak, jadi ga bisa konsentrasi. Tapi ketika, hati ini bahagia, suasana jadi tampak indah. Berarti -kesimpulan sementara- suasana dalam hati, jauh lebih powerfull, dari pada pengaruh suasana di luar. Buktinya, suasana yang sama, bisa dimaknai berbeda, karena kondisi hati yang berbeda. Barangkali ini senada dengan hadis Rasulullah saw, “Sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila dia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila dia buruk maka buruklah seluruh jasad. Ketahuilah, dia adalah hati" (Riwayat Bukhari Muslim). Ya…, bener banget…,saya setuju.., dengan kondisi hati yang fit, badan jadi ikutan fit, bahkan suasana juga ikutan indah. Sebaliknya…, saat hati ini kusam, jangankan suasana yang normal, bahkan suasana yang indah sekalipun bisa menjadi suram. Kalau begitu, berarti kita harus sering-sering maintenance hati, karena ia merupakan kunci kebahagiaan. Kebeningan hati, berkaitan erat dengan kecerdasaan seseorang dalam memaknai setiap peristiwa (mengambil hikmahnya). Jika tertimpa musibah ia mampu bersabar, dan jika dianugerahi nikmat ia bisa bersyukur. Kalau setiap hari, minimal kita membersihkan badan 2x, karena kalau dibiarkan, selain penampilan ga nyaman di liat orang, bau, dan tentunya jadi penyakit. Nah, apalagi membersihkan hati, seharusnya jauh lebih diperhatikan, karena kesehatan hati, tak hanya bisa menjadikan hari-hari kita lebih indah, tapi yang lebih menarik adalah, para pemilik hati yang bening itu, kelak akan di panggil Allah swt, dipersilahkan memasuki syurga Nya, “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku” (QS Al-fajr 89: 27-30) Lalu pertanyaannya, bagaimana memiliki hati yang hidup dan merawatnya supaya tetap bening? sehingga termasuk hati yang diridhoi Allah swt dan pantas masuk syurgaNya? Beberapa di antaranya: 1. Tilawah Al-Qur’an 2. Act now to help other 3. Pray at night (tahajud) 4. Relation with shalihin 5. Optimalitation dzikir & do’a 6. Shaum OK…, sudah hampir sampai tujuan, siap-siap turun…, jadi apa hikmahnya ? pelihara hati..!. dengan 1) Tilawah Al-Qur’an, 2) Act now to help other, 3) Pray at night, 4) Relation with shalihin, 5) Optimalitation dzikir & do’a, 6) Shaum, kalau di singkat, di ambil huruf awalnya aja, jadi TAPROS. Hei…, kayaknya pernah denger deh…? Oh iya satu lagi hikmahnya, lain kali, kalau kejadian lagi, kita harus segera merebut tempat duduk kosong, bukan untuk dinikmati sendiri, tapi untuk di berikan pada orang lain, memiliki untuk memberi. Secara luas, dalam berbisnis pun demikian, kita wajib untung, bahkan walau seratus rupiah pun, karena dengan memiliki kita bisa memberi. Terserah orang mau menilai kita cinta dunia, atau apapun, selama tak melanggar batasan syar’i dan melalaikan ibadah, rebutlah …, milikilah …, lalu berinfaklah. “depan , kiri pa…!” saya pun turun sambil tetap mendengarkan MP3, kali ini giliran lagunya opick, kalu ga salah judulnya “tombo ati”. tombo ati iku limo perkarane Wallohu'alam, ( 1 Vote ) |